Resensi Buku- - Rindu

 RINDU



Identitas buku

Judul : Rindu

Penulis : Tereliye

Penerbit         : Republika

Tebal buku : 544 halaman



Novel yang mengisahkan tentang rasa cinta, takdir, rasa benci, dan kemunafikan. Rindu yang tidak terbendung mengait rasa yang tidak pernah tercipta. Rindu mengisahkan tentang perjalanan panjang Jamaah haji Indonesia pada tahun 1938, tentang Blitar Holland; sebuah kapal uap, tentang sejarah nusantara. Kisah tentang perasaan yang unik dibawa dengan balutan suasana sejarah masa lalu nusantara. Seperti sebuah fakta bahwa pada tahun tersebut Indonesia (masih bernama Hindia Belanda), mengikuti Piala Dunia di Prancis untuk pertama kalinya. Selanjutnya, kapal uap Blitar Holland menjadi saksi seluruh kisah di novel Rindu setebal 544 halaman ini. Lalu setelah itu, satu persatu tokoh mulai dimunculkan. Suasana yang retro namun dengan perasaan rindu masa kini yang menjadi hawa baru bagi pembacanya.

Nampaknya, kisah cinta selalu menjadi sesuatu yang menarik dalam setiap novel. Dan memang sepertinya, di novel apapun selalu ada sepasang atau dua pasang yang muncul dengan keromantisannya. Begitupun di novel Rindu ini. Rindu membawa kisah seorang yang berwibawa bernama Adipati Daeng dan keluarganya yang sedang melakukan perjalanan selama sembilan bulan ke Mekkah, Saudi Arabia. Kapal uap yang dulu menjadi primadona, dalam kisah ini menjadi saksi perjalanan yang tidak pernah terlupakan. Novel Rindu tidak hanya bercerita tentang perjalanan panjang ke Tanah Suci dengan beragam tragedi, konflik, dan serangkaian peristiwa yang menyertainya. Disertai juga cuplikan sejarah di beberapa daerah yang dijadikan setting. Pembaca dapat merasakan suasana kota Surabaya zaman lampau, naik trem listrik dan berjalan –jalan dikota Banten, menyaksikan orang –orang pribumi berbaur dengan orang Belanda. Pastinya akan merasakan suasana kota Kolombo, berkeliling menaiki kereta api.

“Apalah arti memiliki,

  ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?”


Comments